Kamis, 19 Agustus 2010

jalan jalan


Mungkin bagi sebagian orang, naik gunung itu merupakan kegiatan yang kurang kerjaan…
Sama seperti penilaianku dulu, waktu masih sering naik bus, di terminal sering lihat orang gendong2 carrier hampir segede yang gendong…
Pikiranku ya pasti mo naik gunung lah..
Kurang kerjaan, dirumah aja enak, kok malah susah2 naik gunung, dah dingin, capek jalannya… hiiiii gak banget
Lulus dari delayota kemudian sekolah di utara RS Sardjito, kebetulan banyak temen2 yang sering naik gunung…
Singkat cerita kita mengadakan pendakian massal, lumayan banyak waktu itu, sewaktu belanda masih menjajah, kurang lebih 45 orang…..
Waktu itu gunung yang di daki merbabu, lewat jalur wekas…
Perjalanan yang sangat panjang menurutku, terus ditengah perjalanan terkena badai, akhirnya tidak semua bisa sampai puncak, karena rombongan terpecah menjadi dua….
Yang terbayang waktu itu adalah, enaknya kalo dirumah, gak capek jalan menanjak, nggak kedinginan, pokoknya nyesel deh waktu itu ikut mendaki…..
Akhirnya pendakianpun berakhir, sesampai dirumah 2 hari gak bisa jalan, kaki rasanya kaku-kaku, pegel banget, komplit deh…. Gak lagi2 naik gunung pikirku waktu itu…
Waktu pun berjalan, sekitar setengah tahun-an kalo gak salah, kok rasanya ada rasa kangen dengan suasana di pegunungan, suasana dimana kita menjadi merasa kecil, menjadi begitu lemah dihadapan alam dan penciptanya…
Setelah itu kalo ada acara mendaki pasti tidak absen kalo punya duit, pasti berusaha untuk ikut…

Sebenarnya banyak sekali yang kita peroleh sewaktu kita jalan2 ke gunung…
Dari segi fisik kita sama seperti berolah raga, badan jadi sehat, aliran darah lancar (sok tau),
Yang jelas sewaktu naik gunung, rata-rata orang akan kelihatan sifat aslinya, yang egois akan kelihatan, yang suka menolong juga akan keliahatan… (koyo aku ki hahahaha)
Disaat fisik terasa lelah, sifat dasar dari masing-masing orang akan dengan sendirinya muncul ke permukaan…
Ketika kita naik gunung bersama-sama, kita akan dipaksa belajar untuk saling peduli dengan orang lain, dan dengan tanpa sadar akan mengikis sifat egois yang ada…
Waktu ada yang capek yang lain juga harus berhenti, waktu istirahat bagi tugas, ada yang menyiapkan makanan ada yang menyiapkan tempat dll…
Seorang pendaki gunung juga secara alamiah diajarkan untuk peduli dengan lingkungan, bagi yang sudah biasa naik gunung pasti sudah refleks membawa sampah sisa bekal untuk dibawa turun, ato bahkan membawa sampah yang ditemukan dijalan (koyo aku meneh ki hahahaha), rasanya tu risih melihat alam yang begitu indah sedikit ternoda dengan sampah yang berceceran…

Makanya kebanyakan orang yang sering naik gunung tu orangnya mudah bergaul, easy going, karena “open mind”, jiwanya begitu terbuka, tidak posesif (wakakakakak nek iki nyindir abisss), tampang we koyo preman, tapi jiwanya begitu kerdil….... BANCII
Astaghfirullah, kok malah ngrasani uwong to, istighfar

Ya intinya mendekatkan diri dengan Sang Pencipta itu bisa dilakukan dengan banyak cara, diluar cara yang sudah diatur lho, seperti sholat bagi muslim, kalo itu wajib…
Kalo buat aku, sewaktu digunung ada suatu perasaan lega (pas istirahat lho, nek pas mlaku yo ngos2an), ada perasaan yang plong sewaktu melihat hamparan bukit yang panjang, jurang yang dalam, tebing yang terjal, kemudian akan timbul rasa begitu kecilnya kita dialam yang begitu luas, begitu lemahnya kita diahadapan Allah…(makanya tidak sedikit juga yang meninggal ketika naik gunung, kan banyak tu dijumpai prasasti, in memoriam)

Semoga dengan sedikit tulisan ini yang belum pernah naik gunung jadi pengen naik gunung, yang sudah sering ya lebih pandai mengambil manfaat dari kegiatan tersebut, Amin.

0 komentar: